Senin, 04 Juni 2012

Testimoni Mengenai Survey

Pada tanggal 25 Mei 2012 kemarin, kami kuliah Psikologi Pendidikan tidak seperti biasanya. Kami diminta untuk membantu kakak senior mengisi kuisioner online. Dan hal ini pertama kalinya bagi saya sehingga saya sangat bingung. Tetapi proses pembelajaran tersebut berjalan dengan baik. Kami diajarkan bagaimana cara membuat kuisioner online agar mempermudah kami di semester mendatang jika kami ingin melakukan survey.
Pembuatan kuisioner online tidak begitu sulit, dan kami diberi tugas untuk membuat kuisioner online dengan pernyataan/pertanyaan minimal 5 dengan minimal responden 50 orang.


Tugas yang satu ini benar-benar membuat kami kewalahan, hehehe... Kenapa?
karena kami harus selalu berada dalam area yang ada jaringan untuk koneksi ke internet.
Maksudnya, agar mencapai target maka kami semua harus saling membantu dalam mengisi kuisioner sesama teman agar kuisioner kami juga diisi. Ini merupakan hal baik, karena kami saling membantu satu sama lain.
Masa-masa saat mengisi survey adalah masa-masa penuh dengan notification facebook.
(Lucu kalo diingat-ingat) hahahaha.....


Saya senang dengan tugas ini, karena bisa merasakan banyak hal sekaligus saat membuat dan mengisi survey.
Banyak pengalaman yang kami dapat dari tugas ini, saya sendiri merasakannya. :)

Deskripsi Hasil Survey



Disini saya melakukan survey kepada teman-teman yang mengikuti mata kuliah Psikologi Pendidikan di Fakultas Psikologi USU. Survey yang saya buat mengenai Teknologi dan Pendidikan. Saya ingin melihat bagaimana pengaruh teknologi dalam pendidikan saat ini. Jumlah responden yang mengisi survey saya yaitu 62 orang. Dan mayoritas responden setuju bahwa teknologi sangat berpengaruh dalam pendidikan.
Dapat dilihat dari data di atas, mayoritas memilih dengan 58,06% (36 orang) setuju bahwa teknologi dan pendidikan tidak bisa dipisahkan. Dan hanya sebagian kecil saja yang tidak setuju, yaitu 3,23%, sementara yang lain memilih sangat setuju dengan 24,19% dan 14,52% netral.  

Pernyataan kedua, tanpa teknologi berupa akses internet maka proses belajar mengajar akan terhambat mendapat persentase seimbang antara memilih netral dan tidak setuju yaitu 25,81%. Sejujurnya saya sendiri tidak setuju dengan pernyataan ini karena masih banyak sumber-sumber yang dapat membantu kita dalam belajar, dan yang paling penting itu adalah buku. Namun, dikarenakan saat ini teknologi sudah sangat maju, maka pendidikan akan lebih berjalan lancer jika dibantu dengan akses internet untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber.

Teknologi membantu saya belajar karena mudah digunakan, pada pernyataan ini tidak ada responden yang tidak setuju. Hanya 3,23% (2 orang) saja yang memilih netral, sementara persentase terbesar responden setuju dengan persentase 75,81% (47 orang), dan sisanya memilih sangat setuju 20,97% (13 orang).

Saya lebih sering mencari informasi pelajaran di internet daripada di buku. 45,16% responden setuju dengan pernyataan ini, 35,48% memilih netral, 14,52% responden sangat setuju, dan hanya 4,84% yang tidak setuju. Hal ini menandakan bahwa teknologi berupa internet sangat membantu dalam proses belajar mahasiswa saat ini.

Penggunaan teknologi dalam belajar di kampus saat ini sudah memadai. Pada pernyataan kelima ini, responden banyak memilih menjawab netral yaitu 43,55% (27 orang). Menurut saya, netral yang dimaksud di sini adalah bahwa terkadang kesempatan untuk mengakses internet itu mudah, dan terkadang sulit. Kemudian 6,45% responden menjawab sangat tidak setuju, 11,29% tidak setuju, 35,48% setuju, dan 3,23% sangat setuju. Jika di generalisasikan maka, 24 responden setuju dengan pernyataan tersebut dan 11 responden tidak setuju. Maka secara keseluruhan responden setuju dengan pernyataan kelima.

Kesimpulan yang dapat saya ambil dari hasil survey di atas adalah bahwa teknologi dan pendidikan berjalan beriringin. Teknologi ada untuk membantu dunia pendidikan, dan dengan pendidikanlah teknologi tercipta. Hasil survey menunjukkan bahwa teknologi sangat membantu mahasiswa dalam belajar dan mencari informasi yang dibutuhkan karena penggunaannya yang mudah. Kemudahan itu pun dibantu kampus dengan menyediakan layanan wi-fi sehingga mahasiswa bisa lebih mudah dalam belajar di kampus.

Anak Berkebutuhan Khusus


Definisi Anak Berkebutuhan Khusus menurut Para Ahli

  • Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan dalam beberapa dimensi penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka adalah yang secara fisik, psikologis, kognitif, atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan/kebutuhan dan potensi secara maksimal sehingga memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga profesional. (Suran dan Rizzo, 1979)
  • Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang membutuhkan pendidikan dan layanan khusus untuk mengoptimalkan potensi kemanusiaannya secara utuh akibat adanya perbedaan kondisi dengan kebanyakan anak lainnya. (Mangunsong, 2009)
Perbedaan ABK dan yang bukan ABK :
ciri-ciri mental, kemampuan sensorik, fisik, dan neuromuskular, perilaku sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi, ataupun kombinasi dua atau lebih dari berbagai hal tersebut.

Pendidikan khusus/luar biasa adalah instruksi yang di desain khusus untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari siswa berkebutuhan khusus.
Tujuan utama dari pendidikan khusus adalah menentukan dan menitikberatkan kemampuan siswa berkebutuhan khusus.
Siswa berkebutuhan khusus adalah mereka yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengoptimalkan potensi kemanusiannya secara utuh akibat adanya perbedaan kondisi dengan kebanyakan anak lainnya.

Berbagai istilah yang berkaitan dengan ABK :
  1. Disability, menunjukkan berkurang atau hilangnya fungsi organ atau bagian tubuh tertentu. Biasanya istilah ini digunakan secara bergantian dengan "impairment"
  2. Handicap, merupakan masalah atau dampak dari kerusakan (disability atau impairment) yang dialami oleh individu ketika berinteraksi dengan lingkungan.
Tujuan Pendidikan Khusus :
  1. Mengembangkan kehidupan anak didik dan siswa sebagai pribadi
  2. Mengembangkan kehidupan anak didik dan siswa sebagai anggota masyarakat
  3. Mempersiapkan siswa untuk dapat memiliki keterampilan sebagai bekal memasuki dunia kerja
  4. Mempersiapkan anak didik dan siswa untuk mengikuti pendidikan lanjutan
Model Penyelenggaraan Pendidikan Khusus :

A. Segresi
  • Anak berkebutuhan khusus belajar dalam lingkungan yang berisi anak-anak berkebutuhan khusus juga.
  • Jenisnya dapat berupa TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMLB
  • Kelemahannya : sering berfokus pada apa yang tidak bisa dilakukan anak, sehingga dapat menimbulkan masalah .
  • Konsep diri : anak cenderung terisolasi sehingga kehilangan teman sebaya dan belajar tentang perilaku  dan keterampilan yang tepat
B. Integrasi
  • Anak berkebutuhan khusus diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak normal di sekolah reguler.
  • Bentuknya bermacam-macam :
          -  Integrasi dalam acara-acara tertentu
          -  Berada dalam satu kompleks sekolah namun dengan gedung dan jadwal yang berbeda
          -  Memiliki jadwal istirahat yang sama tetapi tidak ada kegiatan bersama
          -  Anak belajar di kelas khusus dulu, setelah dianggap siap maka dipindahkan ke kelas reguler
          -  Anak ditetapkan di kelas reguler tetapi dengan perhatian yang disesuaikan dengan kebutuhannya
          -  Belajar di kelas khusus dan sesekali bergabung dengan kelas reguler untuk mata pelajaran tertentu.
C. Inklusi
  • Staub dan Peck (1995) mengemukakan bahwa pendidikan inklusi adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler.
  • Sapan dan Shevin menyatakan bahwa pendidikan inklusif sebagai sistem layana pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya.
  • Oleh karena itu, ditekankan adanya restrukturisasi sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, artinya kaya dalam sumber belajar dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.
Diagnosis atau Pelabelan Keluarbiasaan
Dampak Positif : memungkinkan anak mendapat perlakuan dan penerimaan yang tepat dari lingkungan
Dampak Negatif : dapat membuat lingkungan memandang anak secara negatif, begitu juga anak memandang dirinya sendiri.

Jenis Sekolah Luar Biasa (SLB)

1.  SLB A : untuk Tuna Netra
     Persyaratan : keterangan dari dokter mata, umur sebaiknya 3-7 tahun dan tidak lebih dari 14 tahun.

2.  SLB B : untuk Tuna Rungu
     Persyaratan : keterangan dari dokter THT, umur sebaiknya 5-11 tahun.

3.  SLB C : untuk Tuna Grahita, IQ = 50-75
           C1 : untuk Tuna Grahita, IQ = 25-50
     Persyaratan : keterangan IQ dari psikolog, keterangan dari sekolah akhir dan umur
     sebaiknya 5,5-11 tahun. 

4.  SLB D : untuk Tuna Daksa dengan IQ normal
           D1 : untuk Tuna Daksa dengan IQ < normal
     Persyaratan : keterangan dokter umum, ortopedi dan syaraf, keterangan psikolog,
     umur 3-9 tahun

5.  SLB E : untuk Tuna Laras
     Persyaratan : anak mengalami kesulitan menyesuaikan diri atau pernah melakukan
     kejahatan, umur antara 6-18 tahun.
          
6.  SLB G : untuk Tuna Ganda
     Persyaratan : keterangan dari dokter dan psikolog.

Jumat, 11 Mei 2012

Resume Diskusi : Blended Learning

Nama Kelompok
 
Apa itu Blended Learning ?
Blended learning istilah yang berasal dari bahasa inggris, yang terdiri dari dua suku kata, blended dan learning. Blended merupakan campuran, kombinasi yang baik. Sedangkan learning merupakan pembelajaran.
Sedangkan menurut Harding, Kaczynski dan Wood, 2005, Blended learning merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisonal tatap muka dan pembelajaran jarak jauh yang menggunakan sumber belajar online dan beragam pilihan komunikasi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa Pelaksanaan pendekatan ini memungkinkan penggunaan sumber belajar online, terutama yang berbasis web, dengan tanpa meninggalkan kegiatan tatap muka. Dengan pelaksanaan blended learning ini, pembelajaran berlangsung lebih bermakna karena keragaman sumber belajar yang mungkin diperoleh.

Jadi blended learning dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang memanfaatkan berbagai macam pendekatan. Pendekatan yang dilakukan dapat memanfaatkan berbagai macam media dan teknologi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa blended learning adalah pembelajaran yang mengkombinasikan antara tatap muka (pembelajaran secara konvensional, dimana antara pebelajar dan pemelajar saling berinteraksi secara langsung, masing-masing dapat bertukar informasi mengenai bahan-bahan pegajaran), belajar mandiri (belajar dengan berbagai modul yang telah disediakan) serta belajar mandiri secara online.
Tujuan Blended Learning
• Membantu pemelajar untuk berkembang lebih baik di dalam proses belajar, sesuai dengan gaya belajar dan preferensi dalam belajar.
• Menyediakan peluang yang praktis realistis bagi guru dan pemelajar untuk pembelajaran secara mandiri, bermanfaat, dan terus berkembang.
• Peningkatan penjadwalan fleksibilitas bagi pemelajar, dengan menggabungkan aspek terbaik dari tatap muka dan instruksi online. Kelas tatap muka dapat digunakan untuk melibatkan para siswa dalam pengalaman interaktif. Sedangkan kelas online memeberikan pemelajar Sedangkan porsi online memberikan para siswa dengan konten multimedia yang kaya akan pengetahuan pada setiap saat, dan di mana saja selama pemelajar memiliki akses internet.
Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning
Kelebihan blended learning :
• Pembelajaran terjadi secara mandiri dan konvensional, yang keduanya memiliki kelebihan yang dapat saling melengkapi.
• Pembelajaran lebih efektif dan efisien
• Meningkatkan aksesbiltas. Dengan adanya blended learning maka peserta belajar semakin mudah dalam mengakses materi pembelajaran.
Kekurangan blended learning :
• Media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung.
• Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti komputer dan akses internet. Padahal dalam blended learning diperlukan akses internet yang memadai, apabila jaringan kurang memadai akan menyulitkan peserta dalam mengikuti pembelajaran mandiri via online.
• Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan teknologi
• Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti komputer dan akses internet
Srisakdi (2006), dalam buku Pedoman Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Web terbitan Departemen Pendidikan Nasional, membagi model pembelajaran secara umum menjadi 4 kelompok, yaitu Tradisional, Web Facilitated, Blended, dan Online/e-learning.
Blended :
  • Proses Pembelajaran menggunakan kombinasi antara bahan ajar berbasis web dan tatap muka
  • Porsi pembelajaran online lebih besar dari tatap muka
  • Dalam proses pembelajaran, interaksi (forum diskusi) lebih banyak dilakukan.
Menurut Jared M. Carmen, seorang Preseident Aglint Learning menyebutkan lima kunci dalam mengembangkan blended learning :
1) Live Event
      Pembelajaran langsung atau tatap muka (instructor-led instruction) secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama (classroom) ataupun waktu sama tapi tempat berbeda (seperti virtual classroom). 
2) Self-Paced Learning
       Mengkombinasikan pembelajaran konvensional dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan peserta belajar belajar kapan saja, dimana saja dengan menggunakan berbagai konten (bahan belajar) yang dirancang khusus untuk belajar mandiri baik yang bersifat text-based maupun multimedia-based (video, animasi, simulasi, gambar, audio, atau kombinasi dari kesemuanya). 
3) Collaboration
       Mengkombinasikan kolaborasi, baik kolaborasi pengajar, maupun kolaborasi antar peserta belajar yang kedua-duanya bisa lintas sekolah/kampus. 
4) Assessment
       Tentu saja, dalam proses pembelajaran jangan lupakan cara untuk mengukur keberhasilan belajar (teknik assessment). 
5) Performance Support Materials
      Ini bagian yang juga jangan sampai terlupakan. Jika kita ingin mengkombinasikan antara pembelajaran tatap muka dalam kelas dan tatapmuka virtual, pastikan sumber daya untuk mendukung hal tersebut siap atau tidak, ada atau tidak.
Sumber : http://rizcafitria.wordpress.com/2011/04/30/blended-learning/

Testimoni Mengenai Diskusi Online : BLENDED LEARNING

Hari ini di mata kuliah Psikologi Pendidikan kami memulai sistem belajar Blended Learning, yaitu belajar dengan mengkombinasikan tatap muka dan kuliah online. Jadi, kami bersama-sama masuk kuliah seperti biasanya dan kami melakukan diskusi secara online lewat chat gmail dengan dibimbing oleh dosen.
Perkuliahan hari ini berjalan cukup baik meskipun terjadi beberapa kendala dalam jaringan.
Topik yang didiskusikan bersama kelompok hari ini yaitu Blended Learning.

Saya bersama teman sekelompok saya (Nissa Aztarid S dan Rony Syahputra) bersama-sama mencari sumber-sumber terpercaya mengenai Blended Learning dan mendiskusikannya di dalam suatu room chat. Dan proses diskusi berjalan dengan baik, kami saling membagi link yang kami dapat dan mencantumkannya di dalam room chat. Dan hasil diskusi (verbartim) nya kami kirim ke dosen pembimbing.

Perkuliahan hari ini cukup seru bagi pemula seperti saya, dan saya berharap semoga kedepannya sarana dan prasarana untuk melakukan diskusi online menjadi lebih baik hingga tidak ada gangguan pada jaringan yang terjadi.  Secara pribadi saya merasa kesulitan dengan sistem belajar seperti ini, karena banyak hal yang tidak saya ketahui. Tetapi setelah bisa, hari ini saya merasa lancar-lancar saja belajarnya.  Hal positif menurut saya dari blended learning adalah kita tetap bisa berdiskusi meskipun dalam jarak yang jauh, dan bisa mengirimkan hasil-hasil yang kita dapat pada teman dalam room chat. Hal negatifnya yaitu susahnya mendapatkan sarana dan prasarana yang baik menjadi kendala bagi kami. Apalagi jika saat ingin berdiskusi jaringan untuk connect ke internet terganggu. Sehingga diskusi tersebut akan menjadi tidak lancar. Selain itu, kurangnya pengetahuan yang kami miliki tentang teknologi juga menjadi kendala tersendiri bagi kami hingga diskusi menjadi lambat.


Terimakasih :)



Kamis, 26 April 2012

Definisi Inteligensi menurut Para Tokoh


Inteligensi itu bagaikan listrik, gampang untuk diukur tapi hampir mustahil untuk didefinisikan.
- Crider dkk, 1983
  1. Inteligensi adalah keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. - Santrock
  2. Alfred Binet, Inteligensi terdiri dari tiga komponen :
    - kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau tindakan
    - kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan
    - kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism 
  3. Galton, ada dua karakteristik yang hanya dimiliki orang yang berinteligensi tinggi, yaitu ;
    - Energi atau kemampuan untuk bekerja
    - Kepekaan terhadap stimulus fisik
  4. Mengembangkan bentuk skala pengukuran inteligensi yang banyak mengukur kemampuan fisik seperti kekuatan tangan menekan dinamometer, kecepatan reaksi, kemampuan persepsi mata, dsb. - Catell
  5. Inteligensi sebagai kemampuan seseorang untuk berfikir secara abstrak. - L.H. Terman
  6. Inteligensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang langsung dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang. - H.H. Goddard
  7. V.A.C. Henmon : Inteligensi terdiri atas dua faktor, yaitu :
    - Kemampuan untuk memperoleh pengetahuan
    - Pengetahuan yang telah diperoleh
  8. Inteligensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta. - Thorndike
  9. Inteligensi sebagai kumpulan kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional serta menghadapi lingkungannya dengan efektif. - Wechsler
  10. Walter & Gardner : Inteligensi sebagai suatu kemampuan atau serangkaian kemampuan-kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu kebudayaan tertentu.
  11. Stenberg dkk : Melakukan penelitian dengan mencoba melihat bagaimana pengertian orang awam mengenai inteligensi dan membandingkannya dengan batasan-batas dari para ahli.
  12. Inteligensi merupakan perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian. - K. Buhler
  13. Inteligensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. - Claparde dan Stern

Selasa, 24 April 2012

TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN

Kelompok 6 :

  1. Husna A. Aritonang (11-046)
  2. Janpringatan Purba (11-013)
  3. Putri Azura Ulandari (11-034)
  4. Christyn Elisabeth S (11-094)




Persinggungan antara Teknologi dan Pendidikan

Teknologi adalah tema penting dalam pendidikan dan seperti yang kita ketahui bahwa teknologi dan pendidikan berjalan dengan saling beriringan. Semakin berkembang teknologi, maka pendidikan juga akan semakin maju. Dapat kita lihat dalam proses belajar-mengajar yang menggunakan infokus. Dengan adanya infokus proses belajar-menagajar menjadi lebih mudah dan efisien serta dapat dilihat dalam ruang yang besar meskipun muridnya ramai. Selain itu, saat ini sudah banyak software-software yang dibuat untuk menunjang dunia pendidikan. Contohnya saja SPSS yang mempermudah dalam penghitungan angka-angka statistik yang sulit dan penggunaan internet yang mempermuudah dalam mencari jurnal-jurnal.

Di lingkungan sekolah pun demikian, murid-murid dewasa ini tumbuh di dunia yang jauh berbeda dengan di masa ketika orang tua dan kakek mereka masih menjadi murid. Jika murid ingin siap kerja, teknologi harus menjadi bagian integral dari sekolah dan pelajaran di kelas. Murid-murid saat ini sudah diajarkan mengenal perangkat komputer dan diajarkan bagaimana cara menggunakannya serta diberikan tugas-tugas yang harus dikumpul lewat e-mail. Yang diajarkan itu bisa berupa bagaimana mengoperasikan Ms. Office.

Jadi, jika teknologi tersebut digunakan dalam konteks pendidikan maka teknologi itu akan semakin bermanfaat dan akan sangat membantu proses belajar-mengajar. Selain itu, dengan adanya teknologi, informasi-informasi yang dibutuhkan dalam pembelajaran akan semakin mudah di akses.


Konteks Teknologi terhadap Pendidikan di Indonesia

Jika di lihat dari Standar untuk Murid yang "Melek Teknologi" pada buku Psikologi Pendidikan karangan John W. Santrock Edisi Kedua, maka penyebaran penggunaan komputer sudah cukup baik di Indonesia meskipun masih ada sekolah-sekolah yang pada kelas tersebut belum sesuai dengan standar seharusnya. Ada beberapa sekolah yang sudah mengajarkan muridnya mengenai perangkat dan cara mengoperasikannya. Sementara itu ada juga sekolah yang masih tertinggal dari standar seharusnya. 
Jadi, teknologi itu sendiri belum menyebar secara merata di tingkat pendidikan dan masih ada yang tidak sesuai dengan pencapaian yang seharusnya.

Berdasarkan pengalaman pribadi kami, pada tahun 2003 saat sekolah sudah seharusnya menggunakan Sistem Operasi Windows, sekolah kami masih menggunakan Ms. DOS. Selain itu, saat kami SD dimana beberapa sekolah mengajarkan muridnya mengenai penggunaan komputer, kami masih tidak bisa menggunakannya.

Ubiquitous Computing

Ubiquitous Computing adalah generasi ketiga komputer yang menekankan pada distribusi komputer ke lingkungan, ketimbang ke personal. Ubiquitous adalah kebalikan dari realitas virtual. Jika realitas virtual menempatkan orang di dalam dunia yang diciptakan komputer, ubiquitous computing akan memaksa komputer eksis di dunia manusia atau dunia pasca-PC.

Pandangan kami terhadap Ubiquitous Computing adalah baik, karena dengan adanya Ubiquitous Computing di dunia pendidikan akan semakin mudah bagi tiap individu untuk mengakses internet dimanapun dan memperoleh informasi dengan mudah. Dan saat ini sudah merupakan zaman Ubiquitous Computing meskipun dapat kita lihat bahwa Indonesia  masih sangat tertinggal dari negara lain yang sangat mudah dalam mengakses internet.
Sebagai mahasiswa kami memandang Ubiquitous Computing ini sangat efisien, karena dengan mudahnya diakses internet mahasiswa jadi bisa belajar dimanapun meskipun tidak langsung bertatap muka dengan dosen. Dosen bisa mengadakan kelas online. Manfaat dari Ubiquitous Computing ini akan sangat terlihat jika kita bisa menggunakannya dengan benar, masih dalam konteks pendidikan yang seharusnya. Misalnya dengan adanya smartphone kita bisa mengakses informasi dari internet kapankun kita mau. Bahkan sudah ada aplikasi untuk menyimpan file berupa Ms. Word dan lainnya sehingga kita bisa belajar meskipun kita tidak di kelas.