Senin, 27 Juni 2022

Why am I living like this?

 Kenapa aku hidup seperti ini?

Pertanyaan yang akhir-akhir muncul setiap malam, setiap pagi.

Seolah-olah aku gak punya kontrol atas kehidupan yang ku jalani.


Hal ini tidak semerta-merta membuatku tak tahu arti hidup atau kenapa aku dilahirkan.

Tapi mempertanyakan pilihan yang ku buat setiap pagi.

Ke mana aku harus melangkah.

Pakaian apa yang ku kenakan.

Perasaan ku pagi ini.

Apa yang ku konsumsi.

Siapa yang ku jadikan teman.

Dan bagaimana aku akan mengakhirkan hari.

Lagi-lagi semuanya serasa tak berarti.




Senin, 20 Desember 2021

Kehilangan

​Ketika kehidupan makin berat. 

Di sini aku kembali. 

Berbagi pada dunia yang tak mengenalku. 

Dunia yang tak ku lihat secara langsung. 

Dunia dibalik layar. 


Pernah ku baca satu kutipan. 

“Kau tak akan pernah benar-benar mengerti arti kehilangan sampai kau mengalaminya.”

Dan kini kutipan itu terus-terusan terngiang di kepalaku. 

Menjadi pengingat bahwa yang pergi tak akan kembali. 

Bahwa aku dipaksa untuk berdamai dengan keaadaanku. 

Dipaksa untuk menerima apa yang menimpaku. 

Meskipun hati ku ingin meronta protes pada keadaan. 

Tapi Allah lebih tau. 

Dan apa lah aku di muka bumi ini. 

Selasa, 01 September 2020

Kurang Bersyukur

Faktanya, kita cenderung lupa bahwa rezeki itu tidak hanya dalam bentuk uang. Bukan berarti aku men-generalisasi-kan bahwa semua orang merupakannya. Tapi aku yakin bahwa kebanyakan kita begitu, termasuk diriku sendiri. Sering kali hal ini perlu diingatkan, entah itu dalam bentuk teguran dari postingan akun-akun dakwah di instagram atau dari vidio-vidio ceramah yang kita temukan di youtube. 

Tak ayal pula, kita lebih mudah mengucapkan 'Alhamdulillah' ketika mendapatkan rezeki dalam bentuk uang. Namun kita jarang mengucapkan kalimat yang mulia itu untuk hal lain. Dan kita pun lupa untuk bersyukur karena tak semua orang yang mendapatkan uang akan mengucapkan 'Alhamdulillah'.

Bagiku butuh waktu dua tahun untuk mensyukuri satu nikmat yang telah Allah berikan bagiku. Prosesku hingga mengenal manhaj salaf jelas bukan kebetulan belaka. Sungguh semua telah Allah takdirkan termasuk atas orang-orang yang hadir dalam hidupku selama perjalanan hijrahku ini. Apa yang ku pikirkan sekarang jelas tak ku rasakan dua tahun yang lalu. Seolah-olah semua itu adalah proses yang wajar.

We shouldn't take for granted people around us. Mereka hadir dalam hidup kita adalah anugrah yang Allah berikan. Someone said it could be a lesson or a blessing. So, aku menyadari bahwa ternyata aku sampai ke jalan ini bukan karena kemampuan ku sendiri. Tapi karena Allah kirimkan orang-orang yang mengarahkan aku ke jalan ini. Sungguh rasa haru merasuk jiwa ketika perasaan itu sampai ke dada. Teman-teman yang patut ku jaga, teman-teman yang harus ku perjuangkan hingga bisa bertemu kembali di surga-Nya.

Mulai dari sini, aku harus belajar untuk mensyukuri hal-hal lain yang lebih berharga daripada sekedar uang. Hal-hal yang mungkin kita anggap biasa. Dengan memahami hal ini ku sadari aku harus memandang dunia dengan cara yang berbeda, dengan persepsi baru yang bisa membuatku mensyukuri banyak hal. 

Kamis, 06 Agustus 2020

Selasa, 28 Juli 2020

Set Your Priority

Hidup ini gak melulu main-main.
Gak serba haha-hihi.
Bukan bercandaan.
Bukan pula sekedar mimpi gak berarti.

Tak perlu khawatirkan apa-apa yang sudah ditetapkan oleh-Nya.
Bukankah surga itu yang paling utama untuk digapai?
Tak kan kau capai kecuali dengan rahmat-Nya.

Lalu pertanyaanya,
Seberapa besar kau ingin surga itu menjadi masa depanmu?


Jumat, 16 Agustus 2019

Untukmu yang Lagi Sedih

"Karenanya seorang di atas muka bumi ini harus sadar bahwasanya dia diciptakan untuk diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka semua orang diuji. Tidak ada seorang pun yang tidak diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dan kita tahu semua orang pernah bersedih atau sebagian mereka sedang bersedih. Tidak ada yang pernah luput dari kesedihan, dengan ujian yang macam-macam.
Ada orang yang diuji dengan harta : ekonomi yang sulit, dengan hutang / dililit hutang.
Ada orang yang diuji dengan badannya : cacat atau sakit-sakitan atau tubuh yang tidak sempurna.
Kemudian juga ada yang wanita diberi kesedihan karena bertahun-tahun sudah menikah tidak memiliki anak. Sementara wanita yang lain juga sedih memiliki anak yang banyak tapi selalu menyusahkan dia (nakal), merepotkan dia.
Sebagian wanita terus menangis, sudah mencapai usia tua tidak mendapatkan suami, sementara banyak wanita yang menangis mendapati suami yang selalu menyesakkan hatinya, selalu memukulnya, selalu menyedihkannya.
Demikianlah namanya ujian beraneka ragam menimpa satu dengan lainnya.

Tonton kajian lengkapnya. 

Selasa, 13 Agustus 2019

BACK TO ROUTINE

Pernahkan menyadari ternyata kita bangun tidur untuk melakukan apa yang kita lakukan pada hari sebelumnya. Lalu dengan sadar menyadari pula bahwa jadwal untuk beberapa hari ke depan akan sama dengan hari ini. Hal ini lah yang sering disebut dengan pekerjaan. Lalu pertanyaannya adalah, "Untuk apa semua rutinitas itu? Untuk apa aku melakukan hal yang ku lakukan semalam lagi?"

Seorang teman pernah menanyakan hal yang dalam sekali. Ia bekerja berjam-jam dalam sehari. Jarang sekali pulang ke rumah, apalagi libur. Jangankan waktu untuk keluarga, waktu untuk diri sendiri pun susah didapatkan. Kemudian ia bertanya, "Apa sebenarnya yang ku kejar dengan semua pekerjaan yang ku lakukan? Untuk apa semua ini?"

Apabila kita mau melihat secara objektif maka itu lah bagian dari kehidupan di dunia. Setiap orang melakukannya. Setiap orang punya rutinitasnya masing-masing. Apakah setiap orang menanyakan hal yang serupa? 

Dengan semua kenormalan ini maka muncul pertanyaan yang paling penting. "Apakah semua rutinitas yang kita lakukan setiap hari dari bangun tidur hingga tidur kembali akan bermanfaat bagi kita di akhirat kelak?" 

Bersyukurlah akan pertanyaan yang muncul tersebut karena tak semua orang menyadarinya. Lalu setelah pertanyaan tersebut muncul apakah hanya sampai di situ? Tentu tidak. Inilah masa meninjau ulang tiap detik waktu yang telah kita lakukan.

Bila yang kita lakukan telah bernilai ibadah maka sebaiknya kita 
fokus bagaimana agar amal tersebut dicintai oleh Sang Khaliq. Bila yang kita lakukan murni hanya mencari dunia dan tak bernilai apa-apa di mata Allah, maka sebaiknya kita bertaubat dan memperbaiki diri. Dan saya pun termasuk hamba yang perlu muhasabah diri. Sungguh dunia ini tak lebih baik dari bangkai kambing.